Indahnya Persahabatan

Indahnya Persahabatan

Indahnya Persahabatan

Kriingggg... ! suara jam beker membuatku terbangun pagi. “Hari yang kunanti-nanti.” Gumamku dalam hati sambil tersenyum kecil. Aku bergegas mandi dan segera turun untuk sarapan. “Selamat pagi…” kataku penuh ceria. “Pagi sayang!” jawab ibu dan ayah bersamaan. “Hari ini siap masuk sekolah lagi?” tanya ibu. “Siap dong bu!” jawabku sambil menyendok nasi goreng favoritku.

Perasaanku bercampur aduk. Setelah satu bulan tidak bersekolah dan tidak bertemu teman-teman, akhirnya hari ini semua terwujud. Gerbang sekolah itu, lorong tiap kelas, canda tawa mereka selalu kunantikan setiap hari. “Ayo sayang kita berangkat, nanti terlambat lho,” kata ayah sambil menggendong tas sekolahku. Aku bersekolah di SDN Ungaran 1 yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sekitar 15 menit perjalanan menggunakan mobil. “Sayang, hari ini kamu jangan terlalu capek dulu ya! Kalau ada apa-apa langsung bilang Bu Muji, nanti ayah langsung jemput kamu.” Pesan ayah dengan raut wajah khawatir. “Siap komandan!” jawabku dengan lantang. Ayah pun berlalu dengan senyumnya yang penuh kharisma.

“Aduh, maaf!” kata seorang anak perempuan yang tiba-tiba menabrakku dari belakang. “Maaf, aku terburu-buru!” sambungnya sambil membenahi kacamatanya. “Oh gak apa-apa!” jawabku. “Sini aku bantu bawain bukumu,” sambungku sambil terus mengamati anak perempuan itu. “Kamu anak kelas berapa?” tanyaku penasaran. “Aku kelas 4A, kalau kamu?” tanyanya balik. “Aku…” jawabku terputus karena dari kejauhan aku mendengar ada yang meneriakkan namaku. “Cissaaa…” teriak Helen dan Lubna bersamaan. Mereka adalah sahabatku dari kelas 1. Senang rasanya bertemu mereka lagi. “Hai…!” teriakku sambil berlari memeluk mereka. “Kamu apa kabar Cis?” tanya Lubna. “Aku baik-baik saja.” jawabku. “Oh iya Cis, kenalin ini Naomi,” kata Helen. “Dia anak baru, pindahan dari Singapura,” lanjutnya. “Hai Naomi, aku Cisa,” kataku memperkenalkan diri. Bel pun berbunyi, kami masuk ke kelas dan siap mengikuti pelajaran.

“Jadi, selama satu bulan ini kamu di Malaysia Cis?” tanya Naomi sambil membawakan bakso pesananku. Suasana kantin hari ini sangat ramai. Tapi justru suasana seperti ini yang tidak bisa aku temui saat di rumah sakit. “Iya Naomi, dokter di sini menyarankan orangtuaku untuk membawaku ke rumah sakit di Penang Malaysia,” jawabku dengan sedih. “Jangan sedih Cis, kan kamu sekarang udah di sini, udah gak di rumah sakit lagi,” kata Helen sambil memegang tanganku. “Jangan lupa ya teman-teman besok kita latihan menari,” sela Lubna sambil meminum es tehnya. “Latihan apa?” aku ketinggalan banyak pelajaran nih,” sahutku. “Besok kita latihan menari untuk penilaian bulan depan!” jawab Naomi. “Gimana kalau kita latihannya di rumahku aja?” sambungnya. “Setuju!” jawab Helen dan Lubna kegirangan.

“Ibu, hari ini aku ada latihan nari di rumah Naomi kataku sambil menyelesaikan sarapan. Ingat kata dokter, kamu masih belum boleh kecapekan!” pesan ibu. “Iya bu, aku tahu kok. Aku tetap jaga kesehatan,” jawabku sambil mengecup pipi ibu dan berpamitan. Pelajaran di sekolah hari ini terasa membosankan. Entah kenapa tiba-tiba kepalaku terasa berat. “Kamu kenapa Cis?” tanya Naomi yang duduk di sebelahku. “Ahh gak apa-apa kok, cuma kebelet pipis aja,” jawabku. Segera aku meminta ijin Bu Muji untuk ke toilet. Tes.. tes.. darah segar mengalir dari hidungku. “Ya Tuhan!” kataku kaget. “Gak ada yang boleh tahu kalau aku mimisan,” kataku sendiri.

Hari demi hari terasa semakin berat. Memang karena penyakit Leukimia yang aku derita. Tetapi juga karena aku harus tetap terlihat ceria dan baik-baik saja dihadapan ibu, ayah, Naomi, Helen, Lubna, Bu Muji, dan teman-teman yang lain. Semua harus terlihat normal. Walau sebenarnya tubuhku semakin lemah. Aku tahu penyakit ini semakin menggerogoti tubuhku. Tapi aku tidak ingin orang di sekitarku sedih dan khawatir. Apalagi ibu dan ayah yang selalu ada untukku. Tak peduli berapa banyak biaya yang di keluarkan, mereka selalu berkata bahwa kesehatanku adalah yang terpenting bagi mereka. Begitu juga ketiga sahabatku. Mereka yang kini menghiasi hari-hariku. Mereka yang selalu menyemangatiku. “Aku harus kuat!” kataku dalam hati.

“Wah, aku gak sabar tanggal 11 April nanti,” kata Lubna sambil menggendong tasnya. “Jadi, latihan hari ini buat memeriahkan Hari Bumi tanggal 11 April nanti?” tanyaku sambil berjalan di belakang Lubna. “Betul banget Cis! Anak laki-laki nanti akan kirab keliling sekolah,” jawab Helen. “Teman-teman cewek yang lain juga gak kalah keren lhoh Cis,” kata Naomi. “Si Fayla ikut lomba fashion show barkas, farah ikut lomba baca puisi, Tya dan Nosa satu grup bikin kreatif barkas,” sambung Naomi menjelaskan. “Seruuu bangettt! Gak sabar pengin cepat Hari Bumi,” kataku sambil tersenyum lebar.

Hari Bumi memang sangat dinanti-nanti. Akan ada panggung besar untuk menampilkan bakat siswa. Para wali murid juga disibukkan dengan bazar yang menyuguhkan jajan pasar. “Siap ya teman-teman!” kata Lubna penuh semangat. “Siap!” jawab kami kompak. Penampilan demi penampilan dari tiap kelas begitu memukau di atas panggung. Dan saatnya kami berempat untuk tampil. “Ya Tuhan semoga semuanya berjalan dengan lancer,” doaku dalam hati. Tepuk tangan meriah dan irama musik menyambut kami saat menaiki panggung. Gerakan demi gerakan, lompatan demi lompatan, dan akhirnya… gubrakkk!

Tak ada yang kuingat selain kegaduhan di atas panggung. Dan kini aku berada di atas ranjang rumah sakit lagi. “Sayang kamu sudah sadar?” kata ibu sambil mencium keningku. “Kamu kenapa bu?” tanyaku lirih. “Kamu jatuh dan pingsan di atas panggung,” jawab Naomi. “Kata dokter kamu kecapekan,” sahut ayah dari balik pintu. “Besok kita harus ke Singapura, kamu akan menjalani perawatan di sana,” sambung ayah sambil berkaca-kaca. Di sudut ruangan aku melihat ketiga sahabatku bersedih, dan tak luput kesedihan ibu yang begitu mendalam. Kupandang kesedihan itu. Aku tahu ibu dan ayah saling bertengkar. Tak ada lagi tabungan, Tak ada lagi investasi. Semua yang mereka miliki habis demi kesembuhanku. Kesembuhan yang entah nyata atau hanya harapan kosong.

“Ya Tuhan ambil saja nyawaku, jangan buat ayah dan ibu bertengkar lagi. Jangan buat sahabatku bersedih lagi,” doaku dalam hati sambil terus mengusap linangan air mata yang tak dapat ku bending. “Ayah, Ibu, bukankah hari ini ulang tahunku?” tanyaku. “Iya saying,” jawab ibu sambil mengusap rambutku. “Bolehkah aku meminta satu permohonan?” lanjutku. “Silahkan sayang. Apapun akan ayah dan ibu lakukan,” jawab ayah sambil penasaran apa yang kupinta. “Aku tahu umurku tak lagi lama,” kataku pelan. “Cisaaa…” kata teman-temanku terkejut. “Kamu gak boleh bilang gitu sayang. Kamu pasti sembuh,” kata ibu menyemangatiku. “Aku ingin terus berada di dekat ayah, ibu, dan juga sahabatku. Jika aku tidak ada nanti, ayah dan ibu harus berjanji padaku. Tak usah terlalu larut menangisiku. Ayah dan ibu harus hidup bahagia berdua. Janji ya?” kataku menahan sakit ini. “Sayanggg…” suara tangis ibu yang semakin terdengar kencang memecah keheningan. Kulihat ayah duduk tak berdaya di sebelah ibu. Setidaknya aku tahu bahwa mereka saling mencintai. Dan untuk kalian sahabatku,” kataku sambil menatap Naomi, Helen, dan Lubna. Mereka pun datang menghampiri dan memelukku sambil menangis. “Terimakasih sudah menjadi sahabatku. Janji untuk tidak lupakan aku ya?” kataku sambil tersenyum memeluk mereka. “Tak ada yang bisa ku berikan untuk kalian selain puisi tentang persahabatan kita,” lanjutku. “Janji Cis,” kata mereka bersamaan.

Rintik hujan menghantarkanku ke peristirahatan yang terakhir. Bunga mawar merah menghiasi kepergianku. Tak ada yang perlu disesali. Bukankah semua adalah takdir Tuhan. Begitu juga persahabatan kita. Cerita kita, canda tawa kita, bahkan pertengkaran diantara kita. Semua akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan. Terimakasih sahabat kau kan kukenang selamanya.

 

Persahabatan Kita

Oleh: Cisa

Teruntuk kalian sahabatku

Naomi, Helen, dan Lubna

Terimakasih sudah selalu menemaniku

Canda, tawa dan haru bersamaku

 

Wahai sahabat

Kalian yang membuatku tersenyum

Kalian yang menghibur hari-hariku

Hanya kalian, sahabatku

 

Andai waktu dapat kuputar

Agar cerita kita dapat terus berjalan

Aku akan sangat bahagia

Tapi kini ku harus pergi

 

Usap air matamu, sahabat

Kenang aku dalam hatimu

Doakan aku dalam sujudmu

Karena aku sahabatku

Oleh: Cisa Aprilia Cynthia Bella

Kelas 4A