Bersusah-susah Dahulu Bersenang-senang Kemudian

Bersusah-susah Dahulu Bersenang-senang Kemudian

Bersusah-susah Dahulu Bersenang-senang Kemudian

Di sebuah sekolah, ada seorang anak laki-laki bernama Besh Alexandra, dan teman-temannya biasanya memanggil Besh. Saat ini dia duduk di kelas 3 SMP dan dia termasuk pelajar yang sangat rajin dan tekun, sehingga selalu mendapat ranking yang bagus. Selain itu, Besh juga termasuk anak yang taat pada orang tua dan rajin bekerja membantu orang tuanya setelah pulang sekolah. Hal ini ia lakukan karena dia tahu kondisi orang tuanya yang selalu kekurangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, bahkan untuk membayar sekolah saja selalu kesusahan. Namun demikian, dia harus tetap sekolah untuk meraih cita-citanya di masa mendatang. Dia harus belajar dan bekerja keras membantu orang tuanya setelah pulang sekolah.

Karena banyaknya pekerjaan membantu orang tuanya, pada suatu hari Besh belajar Bahasa Inggris tidak fokus, padahal hari berikutnya akan ada Ujian Try Out mata pelajaran tersebut di sekolahnya. Ketika ujian Bahasa Inggris, Besh mengerjakan dengan penuh cemas dan terasa mengantuk sekali karena kelelahan. Besh berusaha melawan rasa kantuk tersebut, tapi tidak bisa, akhirnya ia menjawabnya dengan sekenanya. Dengan berjalannya waktu, Besh masih belum bisa menjawab 10 soal lagi, sedangkan waktunya tinggal 5 menit lagi. Sampai waktu berakhir, akhirnya 10 soal tersebut tidak bisa di kerjakan dengan baik. Kriinggg… waktu pulang tiba, bel berbunyi dengan keras, semua anak dan Besh membersihkan meja dan mengumpulkan jawaban ujian kepada guru. Alat tulisnya dimasukkan ke dalam tasnya dan bersiap-siap pulang.

Besh pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Saat di perjalanan, ia masih memikirkan banyaknya jawaban yang salah mengerjakannya. Dia begitu menyesal, mengapa tidak belajar dengan baik. Dia berfikir, penyesalan memang datang di akhir dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Untunglah, Ujian yang ia kerjakan masih Try Out, “Bagaimana seandainya ujian tersebut ujian UN, pasti saya tidak lulus,” pikirnya dalam hati. Seperti biasanya, sesampainya di rumah Besh selalu ditanya oleh ibunya tentang pelajarannya di sekolah, “Besh apakah kamu tadi bisa mengerjakan soal ujiannya?” tanya ibu Besh penuh rasa cemas. “Aku bisa,” jawabannya dengan sangat lemah dan gemetaran, karena merasa harus sedikit berbohong pada ibunya. Selanjutnya, ia ganti baju dan makan siang seadanya dan beraktifitas membantu orang tuanya.

Esok harinya, Besh libur sekolah, dan seperti biasa setiap hari libur Besh berlari pagi memutari halaman komplek, setiap Besh ingin pulang pasti ada tetangganya yang menawarkan boncengan. Besh ikut boncengan tersebut untuk pulang ke rumahnya. Saat hampir sampai rumah, ada seorang petugas dari kantor pos bertanya, “Apakah disini ada yang bernama Besh Alexandra?” tanya petugas tersebut. “Oo... itu saya sendiri pak!” kata Besh. “Ini ada surat dari sekolah,“ ucap petugas tersebut. “Terimakasih pak” kata Besh sambil menerima suratnya dengan gemetaran karena takut isinya akan membuat ibunya bersedih. Setelah masuk rumah, Besh tidak membuka surat tersebut tetapi langsung memberikan kepada ibunya. Setelah ibunya membuka surat itu dan membacanya, tiba-tiba ibu memeluk dengan erat dan berkata, “Besh kamu mendapatkan nilai Try Out tidak bagus, dan ibu senang jika kamu lebih giat belajar dan membagi waktu dengan baik supaya nilaimu bagus,” kata ibu. “Iya bu,” jawab Besh dengan lirih.

Selanjutnya, ia selalu menurut nasehat ibu dan belajar membagi waktu untuk membantu orang tuanya dan belajar. Dia sangat berhati-hati dan fokus dalam belajarnya karena sebentar lagi ujian nasional akan segera tiba. Dia tidak mau nilainya jelek lagi saat seperti ujian Try Out kemarin. Siang untuk belajar di sekolah dan membantu orang tuanya, malamnya ia gunakan untuk belajar dengan keras tanpa mengenal lelah. Saat ujian nasional tiba, diapun dapat mengerjakan soal-soalnya tanpa mengalami kesulitan. Setelah ujian nasional selesai, Besh lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Selanjutnya Besh harus mendaftarkan diri ke sekolah SMA. Dengan nilai yang dimiliki Besh, dia dapat diterima di SMA Negeri yang terbaik di kotanya. Dia belum berfikir dengan bersekolah di SMA favorit, cita-citanya akan lebih mudah tercapai.

Tetapi karena kondisi ekonomi orang tuanya yang kurang, kadang Besh merasa minder dan tidak percaya diri di sekolah barunya. Banyak teman-temannya yang suka mengejek Besh, sehingga membuat dia ingin pindah ke sekolah lain. Baru satu bulan di sekolah, Besh sudah tidak betah dan tersiksa dengan tingkah laku teman-temannya di sekolah. Selain itu juga karena jarak sekolahnya yang jauh dari rumahnya menjadi alasan bagi dirinya untuk pindah ke sekolah lain. Akhirnya  Besh memohon pada ibunya agar ia bisa pindah sekolah di dekat rumahnya. Ibunya mencari informasi ke sekolah dan mendapatkannya kalau sekolah dekat rumahnya masih menerima anak pindahan lagi. Besh menyadari bahwa sekolah tersebut adalah sekolah yang biasa-biasa saja, bahkan tidak terkenal. Selanjutnya. Ia belajar dengan keras dan keras, karena dia yakin keberhasilan tidak hanya ditentukan  oleh terkenalnya nama sekolah saja. Tak heran waktu tahun terlewati dan lulus dengan nilai memuaskan dan kemudian diterima di kuliah jurusan kedokteran dengan beasiswa.

 

Oleh: Azka Fathinah Anggraeni

Kelas 5A